Rabu, 12 November 2014

Tugas Etika Profesi Akuntansi (Jurnal)

ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.2 (2014): 444-461

PENGARUH INDEPENDENSI, PROFESIONALISME, TINGKAT PENDIDIKAN, ETIKA PROFESI, PENGALAMAN, DAN KEPUASAN KERJA AUDITOR PADA KUALITAS AUDITOR KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI BALI
Putu Septiani Futri
Gede Juliarsa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa daftar nama Kantor Akuntan Publik dan data primer berupa jawaban-jawaban responden dari pengumpulan data kuesioner. Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dalam penentuan sampel da nada 36 sampel yang memenuhi kriteria. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk teknik analisis datanya, dimana hasil penelitian menunjukkan variabel independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor berpengaruh secar simultan terhadap kualitas audit. Secara parsial hanya tingkat pendidikan dan etika profesi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Kata kunci : independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor.
PENDAHULUAN
            Laporan keuangan adalah ringkasan dari proses pencatatan atas transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun berjalan. Laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang diterima umum (Standar Akuntansi Keuangan), yang diterapkan secara konsisten dan tidak mengandung kesalahan yang material (besar atau immaterial) adalah laporan keuangan yang wajar.
            Pihak internal perusahaan yaitu manajemen dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perusahaan. Manajemen memerlukan informasi keuangan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, pengambilan keputusan, dan memudahkan dalam mengelola perusahaan. Pihak eksternal perusahaan meliputi : kreditor, calon kreditor, investor, calon investor, kantor pajak, pihak-pihak lain yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan perusahaan tetapi memiliki kepentingan dalam perusahaan agar mengetahui kemajuan perusahaan di masa yang akan dating. Manajemen harus membuat system pengendalian intern, untuk mengecek ketelitian serta kebenaran data-data akuntansi yang digunakan, agar perusahaan dapat bersaing dan bahkan mampu meningkatkan mutunya. Pengendalian intern merupakan pengawasan terhadap kualitas kinerja stafnya. Misalnya usaha manajemen dalam mencegah terjadinya kecurangan atau penggelapan dana terhadap kekayaan perusahaan. Terjadinya praktek kecurangan yang dilakukan oleh karyawan pada satu atau bagian dalam  organisasi, maka dari itu manajemen harus mangajukan permohonan audit atas laporan keuangan. Ada dua karakteristik penting yang harus ada dalam laporan keuangan menurut FASB yakni relevan dan dapat diandalkan. Kedua karakteristik tersebut sulit diukur, sehingga para pemakai informasi membutuhkan jasa akuntan public. Jasa dari para akuntan yang bekerja di sutu kantor Akuntan Publik (KAP) atau para auditor eksternal sangat dibutuhkan sebagai jaminan laporan keuangan tersebut memang relevan serta dapat meningkatkan kepercayaan pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Akuntan Publik adalah profesi yang memberikan pelayanan bagi masyarakat umum, khususnya di bidang audit atas laporan keuangan. Audit ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan informasi seperti investor, kreditor, calon kreditor dan lembaga pemerintah.
            Jasa yang diberikan oleh kantor akuntan public yaitu dalam bidang auditing, dan tipe penugasan atestasi lain. Tugas akuntan public yang lain adalah memeriksa laporan keuangan dan bertanggung jawab atas opini yang diberikan atas kewajaran laporan keuangan sehingga bisa digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan.
            Besarnya kepercayaan pengguna laporan keuangan pada Akuntan Publik ini mengharuskan akuntan public memperhatikan kualitas auditnya. Ironisnya kepercayaan yang besar dari pemakai laporan keuangan kepada akuntan public seringkali diciderai dengan banyaknya skandal, misalnya saja pada akhir tahun 2001 sebuah perusahaan terkemuka di dunia yang memperkerjakan sekitar 21.000 orang pegawai yaitu Enron Corporation akhirnya bangkrut. Kebangkrutan Enron dianggap sebagai akibat dari kesalahan Akuntan Publik yang tidak dapat mendeteksi kecurangan yang dilakukan oleh manajemen Enron. Dalam konteks tersebut memunculkan pertanyaan apakah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen. Apabila auditor melakukan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa seberapa bagusnya opini yang diberikan oleh auditor tidak akan berpengaruh terhadap risiko yang dihadapi investor dan kreditor.
            Independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan fungsi pemeriksaan karena selain mematangkan pertimbangan dalam penyusunan laporan hasil pemeriksaan, juga untuk mencapai harapan yakni kinerja yang berkualitas. Independensi berarti sikap mental yang tidak mudah dipengaruhi. Sebagai seorang Akuntan Publik tidak dibenarkan untuk terpengaruh oleh kepentingan siapapun baik manajemen maupun pemilik perusahaan dalam menjalankan tugasnya. Akuntan public harus bebas intervensi utamanya dari kepentingan-kepentingan yang menginginkan tidak ada hasil audit yang merugikan pihak yang berkepentingan.
            Profesionalisme juga menjadi syarat utama auditor. Profesionalisme auditor mengacu pada kemampuan dan perilaku professional. Kemampuan didefinisikan sebagai pengetahuan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, kemampuan teknis, dan kemampuan teknologi, dan memungkinkan perilaku professional auditor untuk mencakup faktor-faktor tambahan seperti transparasi dan tanggung jawab, hal ini sangat penting untuk memastikan kepercayaan public.
            Tingkat pendidikan juga sangat diperlukan dalam menentukan kualitas audit. Semakin banyak pengetahuan yang didapat maka akan memudahkan  auditor dalam memecahkan masalah dalam melaksanakan tugas audit. Pendidikan adalah kegiatan untuk memperbaiki dan mengembangkan sumber daya manusia dengan cara meningkatkan kemampuan dan pengertian tentang pengetahuan umum dan pengetahuan ekonomi termasuk didalamnya peningkatan pengetahuan teori dan keterampilan dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan.
            Etika profesi juga salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Kode etik juga sangat diperlukan karena dalam kode etik megatur perilaku akuntan public menjalankan praktik. Etika professional meliputi sikap para anggota profesi agar idealistis, praktis, dan realistis.
            Faktor lain yang mempengaruhi kualitas audit adalah kepuasan kerja auditor.  Kepuasan kerja ialah suatu rasa positif seseorang atas karakteristiknya yang dievaluasi. Maka dari itu bila seorang auditor memiliki kepuasan kerja yang bagus, akan mampu bekerja lebih baik sehingga menghasilkan kualitas audit yang baik juga.
            Kualitas audit dapat membangun kredibilitas informasi dan kualitas informasi pelaporan keuangan yang juga membantu pengguna memiliki informasi yang berguna. Terutama kesempatan mempromosikan peningkatan yang signifikan dalam auditor professional dengan terus belajar yang akan memperkuat kualitas audit karena konsep pembelajaran yang berkelanjutan telah menjadi penting yang menempatkan prioritas pada melihat, mengadaptasi dan belajar dari perubahan.
            Sehingga menurut latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali?”
METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Propinsi Bali yang merupakan anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Sampel diambil dari 9 KAP yang terdapat di Bali.
            Objek penelitian ini adalah pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali.
            Definisi oprasional dibentuk dengan cara mencari indicator empiris konsep. Dimana semakin mengarah ke poin 1 maupun point 4 dapat ditentukan bahwa variable tersebut berpengaruh atau tidak dalam menentukan kualitas audit.

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan untuk mencari informasi mengenai variabel independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit dinyatakan Valid. Hal ini terlihat dari nilai rhitung > rtabel. Indikator lainnya yang dapat memberikan informasi adalah nilai probabilitas korelasi yaitu 0,000 artinya nilai tersebut < 0,05, sehingga variabel independensi profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit dinyatakan valid.

Berdasarkan Tabel 2. terlihat bahwa seluruh instrumen atau butir pertanyaan dalam variabel reliabel. Hal ini terlihat dari seluruh croanbach’s alpha dari masing-masing variabel nilainya melebihi kriteria yang dipersyaratkan yaitu 0,60.



Hasil pengujian asumsi klasik pada Tabel 3. menunjukkan bahwa model pengujian telah terbebas dari masalah normalitas data,multikoliniearitas, dan heteroskedastisitas.




Pengaruh Independensi pada Kualitas audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali yang terlihat dari tingkat signifikansi (0,079)>α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ardani (2010), Saripudin (2012), dan Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Permatasari(2011), Wahyuni (2013) yang menunjukkan bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Independensi auditor adalah landasan dari profesi akuntan publik. Penurunan atau kurangnya independensi auditor adalah sebuah ancaman, dimana akan menyebabkan banyak perusahaan runtuh dan skandal korporasi di seluruh dunia. Tanpa independensi kualitas audit dan tugas deteksi audit akan dipertanyakan, Mansouri dkk. (2009).
Keadaan seringkali mengganggu independensi auditor, karena ia dibayar klien atas jasanya, sebagai penjual jasa, auditor cenderung memenuhi keinginan klien (Ling Lin, 2012). Persaingan antar Kantor Akuntan Publik bisa jadi pemicu kurangnya independensi auditor, sehingga auditor rentan mengikuti kemauan dari klien agar tidak kehilangan pendapatannya.
Pengaruh Profesionalisme pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,057)> α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Faisal dkk. (2012) yang menyatakan bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Untuk meningkatkan kualitas audit, seorang auditor dituntut agar bertindak profesional dalam melakukan pemeriksaan. Auditor yang profesional akan lebih baik dalam menghasilkam audit yang dibutuhkan dan berdampak pada peningkatan kualitas audit. Adanya peningkatan kualitas audit auditor maka meningkat pula kepercayaan pihak yang membutuhkan jasa profesional. Dengan demikian profesionalisme perlu ditingkatkan, karena sangat penting dalam melakukan pemeriksaan sehingga akan memberikan pengaruh pada kualitas audit auditor. Harapan masyarakat terhadap tuntutan transparasi dan akuntabilitas akan terpenuhi jika auditor dapat menjalankan profesionalisme dengan baik sehingga masyarakat dapat menilai kualitas audit.
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan terbukti berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,005)<α (0,05). Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan auditor maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kualitas audit seorang auditor. Hal ini memberikan suatu gambaran dimana tingkat pendidikan yang dimiliki seorang auditor akan meningkatkan kualitasnya, karena dengan jenjang pendidikan yang tinggi, hal ini berkecendrungan kuat akan meningkatkan wawasan serta kemampuan seorang auditor untuk memegang tanggung jawab serta meningkatkan perannya dalam menjalankan tugasnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi pula tentunya akses informasi yang dimilikinya menjadi lebih banyak sehingga kompetensi dalam menjalankan tugas akan semakin meningkat dan hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitasnya. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Anggraini, Rani, dan Lismawati (2013), yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh pada kualitas audit.
Pengaruh Tingkat Pendidikan pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,008)<α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi etika profesi auditor maka semakin baik pula kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali. Hasil penelitian ini mendukung penelitian oleh Rahma (2012) dan Wahyuni (2013), yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh pada kualitas audit. Dengan menjunjung tinggi etika profesi diharapkan tidak terjadi kecurangan diantara para auditor, sehingga dapat memberikan pendapat auditan yang benar-benar sesuai dengan laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Jadi, dalam menjalankan pekerjaannya, seorang auditor dituntut untuk mematuhi Etika Profesi yang telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan diantara para akuntan yang menjurus pada sikap curang. Dengan diterapkannya etika profesi diharapkan seorang auditor dapat memberikan pendapat yang sesuai dengan laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Jadi, semakin tinggi Etika Profesi dijunjung oleh auditor, maka kualitas audit juga akan semakin bagus.
Pengaruh Pengalaman pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa pengalaman tidak berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,066)>α (0,05). Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian Badjuri (2011) dan Septiari (2013). Hal ini menunjukkan semakin rendah pengalaman auditor maka semakin rendah pula kualitas audit auditor tersebut.
Adapun faktor yang menyebabkan kurangnya pengalaman pada auditor adalah, kurang lamanya bekerja pada Kantor Akuntan Publik, dalam hal ini adalah audit junior, dan selain itu kurangnya kompleksitas tugas yang dihadapi auditor, semakin sering auditor menghadapi tugas yang kompleks maka semakin bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Begitu juga dengan risiko audit yang dihadapi oleh seorang auditor juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dari auditor tersebut. Auditor akan berusaha untuk memperoleh bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukung judgment tersebut. Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor dituntut untuk membuat suatu judgment yang maksimal. Untuk itu auditor akan berusaha untuk melaksanakan tugasnya tersebut dengan segala kemampuannya dan berusaha untuk mengindari risiko yang mungkin akan timbul dari judgment yang dibuatnya tersebut.
Pengaruh Kepuasan Kerja Auditor pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,033)<α (0,05). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Gautama dkk. (2010), Widyasari (2010). Respon seseorang meliputi respon terhadap komunikasi organisasi, supervisor, kompensasi, promosi, teman sekerja, kebijaksanaan organisasi dan hubungan interpersonal dalam organisasi.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka simpulan penelitian adalah:
1) Independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
2) Profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
3) Tingkat pendidikan profesionalisme berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
4) Etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
5) Pengalaman berpengaruh tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
6) Kepuasan kerja auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat diajukan ialah sebagai berikut :
Dengan tidak terbuktinya independensi, profesionalisme, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor pada kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali, maka penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada pihak Kantor Akuntan Publik dalam menilai kualitas audit dan lebih meningkatkan independensi, profesionalisme auditor, selain itu memberikan auditor junior kesempatan lebih banyak dalam menjalankan profesinya dan Kantor Akuntan Publik memberikan penghargaan pada auditor-auditor yang sudah bekerja dengan baik, sehingga auditor memiliki kepuasan kerja dalam melaksankan tugasnya.
Keterbatasan penelitian ini, yaitu penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui kuesioner sehingga data yang diperoleh berdasarkan persepsi responden saja, maka penelitian selanjutanya dapat dilengkapi dengan melakukan observasi yang lebih mendalam. Dari hasil uji koefisien determinasi (adjust R square) penelitian ini variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat sebesar 9,1% sehingga masih ada variabel-variabel bebas lain yang perlu diindentifikasi untuk menjelaskan kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali
REFERENSI
Ardani, Lilis. 2010. Pengaruh Kompetensi, Independensi, Akuntabilitas, dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit. Dalam Majalah Ekonomi Tahun XX.
Badjuri, Achmat. (2011). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Audit Auditor Independen pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jawa Tengah. Dinamika Keuangan dan Perbankan. 3(2) (Nov) h: 183-197.
Baotham, Sumintorn. 2007. The Impact of Proffesional Knowledge and Personal Ethics on Audit Quality. International Academy Bisnis & Ekonomi.
Chanawongse, Kasom., Poonpol, Parnsiri., Poonpool, Nuttavong. 2011. The Effect of Auditor Professional on Audit Quality: An Empirical Study of Certified Public Accountants (CPAs) in Thailand. International Academy Bisnis & Ekonomi.
Faizal, Hardiyah, M. Rizal Yahya. 2012. Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Profesionalisme Terhadap Kualitas Audit Dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Moderasi (Survei pada Kantor Akuntan Publik di Indonesia). Dalam Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Friska, Novanda. 2012. Pengaruh Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, dan Pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Gautama, Ibnu dan Muhammad Arfan. 2010. Pengaruh Kepuasan Kerja, Profesionalisme, dan Penerapan Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Auditor. Dalam Jurnal Telaah & Riset Akuntansi, 3(2) Juli: pp: 195-205
Halim, Abdul. 2008. Auditing I (Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan), Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Jena Sarita, Dian Agustia. 2013. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional, Motivasi Kerja, Locus Of Control Terhadap Kepuasan Kerja dan Prestasi Kerja Auditor. Simposium Nasional Akuntansi 12.

Laksmi Dewi, GAA. 2010. Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pelatihan Kerja, Pengalaman Kerja, dan Profesionalisme Petugas Pemeriksa Pajak Pada Penyelesaian Pemeriksaan Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama se-Bali. Skripsi. Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.

Rabu, 01 Oktober 2014

ETIKA PROFESI AKUNTANSI

Kelompok III
Nama Anggota Kelompok :
1. Aghnia Nuru Rahmah    (20211305)
2. Belli Febriani                 (21211456)
3. Indah Hertati Eka Putri  (23211560)
4. Istiana Khairany            (23211744)
5. Lasnatun                       (28211075)
Judul Buku : PROFESI AKUNTAN PUBLIK DI INDONESIA

Buku Profesi Akuntan Publik di Indonesia ini membahas permasalahan-permasalahan profesi Akuntan Publik di Indonesia terkait dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 Tentang Akuntan Publik (UU Akuntan Publik). Pembahasan buku ini difokuskan pada implikasi pemberlakuan UU Akuntan Publik terhadap independensi dan peranan profesi tersebut dalam mendukung implementasi GCG di Indonesia. Buku ini merupakan suatu kritik terhadap UU Akuntan Publik yang telah diberlakukan pada tahun 2011.

Buku ini dapat dijadikan acuan untuk mengetahui bagaimana pandangan pemerintah dan pembuat undang-undang terhadap profesi Akuntan Publik sebagai bagian dari sistem ekonomi saat ini.

Buku ini memuat materi sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Profesi Akuntan Publik sebagai Bagian dari Good Corporate Governance
Bab 3 Jenis-Jenis Penugasan Profesi Akuntan Publik dan Tanggung Jawab Hukum Profesi Akuntan Publik
Bab 4 Model Regulasi Profesi Akuntan Publik
Bab 5 Regulasi Profesi Akuntan Publik di Indonesia
Bab 6 Implikasi  Kewenangan Menteri Keuangan dalam Pemberian Izin dan Pembinaan Profesi Akuntan Publik
Bab 7 Penutup
Disertai lampiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 Tentang Akuntan Publik.

Tahun Terbit : 2012 
Penerbit : GRAHA ILMU

Sabtu, 31 Mei 2014

TUGAS 3_BAHASA INGGRIS BISNIS 2#__INDIVIDU

Tugas Bahasa Inggris 2
The Classification of Code Mixing
NO
THE SENTENCES
TYPE OF CODE MIXING
TRANSLATION
1
Rudi ngevooting indonesia idol lewat sms
Voot/vooting
Dukungan
2.
Intan ngeadd aku dong di akun fecebookmu.
Ngeadd/add
Menambahkan
3.
Hari ini tina moodian banget sih.
Moodian/Mood
Ngambekkan
4.
Tolong turn offin dong alarm kamu,berisik tau!!
Turn Offin.
Mematikan
5.
Hari ini cuacanya hot banget
Hot
Panas
6.
Harap disilent Hpnya karena sedang ada ujian .
Disilent
Disenyapkan
7.
Nilai ujian aku lagi ngedown banget nih.
Ngedown
Menurun
8.
Oh My God jelek sekali wajah wanita itu
Oh My God
Oh tuhan
9.
Hari ini saya Boring banget, gimana kalo kita jalan-jalan sekarang?
Boring
Bosan
10.
Kondisi tubuh lagi ngedrop banget jadi engga konsen ngerjain tugasnya .
Ngedrop
Menurun



Rabu, 30 April 2014

Tugas Softkill Bahasa Inggris Bisnis 2 (2) Tugas Individu

The Foods and Beverages Merchants in Jabodetabek Lost Their Income Until Rp 200 billion

Bad weather that hit several regions in Indonesia is large enough to impact the food and beverage industry in this country. For only the Jabodetabek area, the floods predicted suppress the turnover to 25 percent.

Chairman of the Food and Beverage Association of Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman explained, a decrease of revenue is due to the difficulty of the distribution of products from the factory to the market because of the flooding block. Thus, it spreads on the decline in consumption.

As an overall result, Adhi estimated the food and beverage industry in Jabodetabek lost the income until Rp 200 billion per day. “In the normal situation, the income in each day for this region reached USD 800 billion,” he said on Tuesday (01/21/2014).

It is not only the distribution to the consumer, food and beverage manufacturers must also bear the losses due to the distribution of raw materials from the another region which also faltered.

For example, the transportation of fresh fruit and meat from Central Java, currently takes up to four days. Though, it usually takes only a half day. “Whereas within five days, the fresh raw materials will rot in about 50 percent” he said.

It hasn’t counted yet the losses because the factory could not be operated due to workers who could not get in because of flooding, or because there is no electricity supply due to outages by PLN in some areas.

Despite the losses is in sight, according to Adhi, manufacturers of foods and beverages will not raise their selling prices. Because this problem is only temporary.

http://www.caramudahbelajarbahasainggris.net/2014/01/3-contoh-artikel-bahasa-inggris-tentang-ekonomi-dan-bisnis-di-indonesia.html

Senin, 31 Maret 2014

TUGAS 1 BAHASA INGGRIS BISNIS 2_KELOMPOK

   
  Nama Kelompok  :
  1. Aghnia Nuru Rachmah          20211305 
  2.  Indah Hertati Eka Putri         23211560
  3. Intan Vantimi                        23211638 
  4.  Lasnatun                             28211075 

                            
                   “The Individual Relationship Around Business Korean  Key"
  
      Korea is a one out of country that be sure to be counted in the Asian’s great moment.  The free economical market this Negara Ginseng becomes a one of top five in the whole the Asia, and be a 15th grade in the world. It’s not wreak, this country is counted as a “ Macan Asia “
Now days, the South Korea is counted as a country which with a higher enough income by World Bank and IMF. If we have Seoul as a mother country South Korea, this place really can be a central place of South Korea,  where is no big  gap between poor people and rich people.
The country that be a family head from some big companies like LG, Samsung, and Hyundai, has a competitive knowledge system also can produce labors whose have high motivation and good skill. All of that related to ethos, culture, also labor’s culture from its labors.
With the differences between cultures, the business culture of Korea becomes a challenge for the foreign entrepreneur. Almost the Korea’s companies are influenced by Confucianism culture. The companies of Korea generally have a high hierarchy system and centralization with some people “core “included managers who can make a big decision. All of job’s descriptions, authority and the work relationship between boss and employer based on seniorities.
The entrepreneur who haven’t be ready and be experienced with Confucianism will find obstacle to do business in Korea. Even tough, there are so many Korean’s people got a knowledge in Western, the norms of Confucianism still dominant and look clearly in Korea.  The foreign people mustn’t have to follow social norms in Korea totally. But, they can be more respect if want to share their carrying and their spirit to learn some key words in the Korea language and follow some social norms.
Korean’s entrepreneur hopes that they can fulfill a promise and be on time to come in the meeting. The first professional traditional that can be done between both of them in meeting is change name card each card. It is important to make believing also relationship in order the process can be running well. It doesn’t like in Western, this process needs time and be patient.  Korea’s people are happy to business with the people that have known before. From the Western’s people side, Koreans are considered almost “sensitive “. They don’t like to lost their face and be placed in the difficult position in front of the other people.
The first meeting is usually to grow up the believing. So they don’t refer to main problem. We have to be formal person until the Koreans or the delegations show the enjoy attitude. The successful of business also related to the social relationship. Sharing dinner each other can be a way to grow up the relation that can push the occurring of believing. The Koreans businessmen are great negotiation. They admire the companies that have delegations which can negotiate perseveringly, but doesn’t much aggressive. The sensitive issues generally be told letter, while the process runs, especially if related difficult things and financial problem.
Encouraging to be introduced through to both of sides than contact its life or contacts them randomly. To meet the special person, it must be related to how can be introducing done.            A credible mediator can help to get the believing from the Korean’s businessmen. Even less, if the respect delegations. Usually, they need time to decide the decision because this case is taken by the collective agreement.  The time which needs a longer than the perspective before.
If we can from the language imagine before. Their perceptions and understanding often be lost from the truth, what the Western people. The culture differences often occurs the big enough hindrance in the communications. Usually, the western people try to repeat or make in some repetition in order to make understanding well. In another hand, they change their own notes each others in order to understand the main of both of sides.
In Korea, legal document is not important if it is considered with individual relationship. Also they don’t like detailed contract or difficult. They are be more like the flexible contract in order to do the adaptations with the changes of conditions, that happened perhaps. It is more important to make relations based on believing and gives advantages than make a long and detail contract. For Korea’s people, “what “ is not important in the contain of , even “ who” signing it, and “why“ contract is mad.
Entertainment is also as an important position in the relationship in Korea. They always compete to drink and change a little present.  Now, golf as a favorite sport and become a interested thing. By this activity, the business relation can become more personal. The knowledge about family, state, hobby, birthday, experience, until the philosophy of individual can be gotten by the entertainment and sport. Even, one out of informal agreement from the side that has believed can be more influenced than the written agreement document.
The concept of Korea’s culture basically included as Kibun, Inhawa, and Confusianism. There is no meaning in the word Kibun in English. But, as a concept that grasp all of life aspect Koreas people, that word can be described as a pride of, mood, countenance or the way to look. In struggle to save Kibun, properly in the business context, a person must respect to others and avoid all of things that can make person becomes shy. In the cultureless, where social harmonist is considered as an important thing, the ability to intemperate others mind (often be called Nunchi ) is important to run the business.
Inhawa is an imaginary of Confisian believing. It means that the approach of Korea harmonization. As a one of collective civilization, the decision from discussion result is important to maintain a harmonization in Korea.  In order the Inhawa can run in accordance with, Koreas people always try to be with positive answers and averse to ignore directly. In the Korea’s culture, this thing is mirror in the company’s loyalty, obedience, and labor’s attitude.
However Confucianism is a philosophy that can influence a lot of Korean’s people. The root of Korean’s culture, so it infiltrates to other people in there. This philosophy forms a moral, national law and life style in Korea generally, starts from family to the their social life.
Released from another influenced, South Korea can still maintain its identity and clear characteristic and homogeny. There are so many influences that are felt from the believing. One more again, Korea has an exciting view and landscape. Korean’s civilizations maintain the legacy or unique aircraft also the language that formed by the long history and curving. As a result, that thing is mirrored in the culture and working culture or it business.
The changes of Korea still to be continued. Even though this country has known as its story that enough complicated from Japan in the last of World War II, they still face the Cold War. But, Korea produced the significant increasing and more grow up that will become one out of the big one in the Asia, except Japan and China the business opportunity that grow up in the Korea also increase the interested and the curious the its culture knowledge.

Akuntansi Internasional 2

BAB 10         1.      Manajemen Resiko Keuangan           Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam men...